BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Penulisan
Dalam berinteraksi dengan siswa seorang guru sangat
diperlukan teori interaksi dalam teori, untuk mengetahui pengaruh
perubahan-perubahan dalam tingkah laku anak didik nya. Dalam pembahasan ini
akan menijau beberapa aspek yang yang bersifat teoritik, yang mempunya kegunaan
praktis dalam mengembangkan pendekatan operasional, serta persoalan masalah
kemantapan dan keterpolaan perubahan sikap, karekteristik anak didik, pendidik
dan lingkungan, serta implikasi unsur emosi manusia dalam proses belajar pada
umumnya. pengembangan Perilaku yang terpola pada khususnya, uraian ini akan
membantu anda memahami dasar psikologi dari proses interaksi nilai.
B. Tujuan Penulisan
1.
Untuk memperluas wawasan
mengenai Ilmu Komunikasi, terutama masalah Interaksi Nilai Dalam Teori
2
Penyelesaian tugas kelompok 3
Ilmu Komunikasi
3
Sebagai refrensi atau bahan
pembelajaran kolompok kami ; dan
4. Sebagai
bahan presentasi kelompok 3
C. Metode
penulisan
1. Melakukan
observasi perputakaan, yaitu dengan membaca buku-buku yang berkaitan dengan
pembahasan dengan tugas makalah ini.
2. Diskusi
antar mahasiswa/i, terutama pada
kelompok kami kelompok 3 yamg memberikan masukan fikiran-fikirannya, sehingga
menghasilkan makalah ini,
]
BAB
II
PEMBAHASAN
INTERAKSI
NILAI DALAM TEORI
1. Sedikit Teori Penghayatan
Nilai-Nilai Hidup
Proses
panjang yang dilalui oleh seseorang dalam mengembangkan nilai hidup tertentu
adalah sebuah proses yang belum seluruhnya dipahami oleh para ahli. Apa yang
terjadi di dalam diri pribadi seseorang hanya dapat didekati melalui cara-cara
tidak langsung, yakni dengan mempelajari gejala dari perilaku orang tersebut,
maupun dengan jalan membandingkan dengan gejala serta perilaku orang lain. Di
antara proses kejiwaan yang sulit untuk
dipahami adaalah peristiwa terjemanya nilai-nilai hidup dalam diri manusia.
Yang mangkin didahului oleh pengenalan nilai secara intelektual, disusul oleh
penghayatan nilai tersebut, dan yang kemudian tumbuh di dalam diri manusia
sedemikian rupa kuatnya sehingga seluruhnya jalan pikiran, tngkah lakunya,
serta sikapnya terhadap segala sesuatu di luar dirinya, bukan saja diwaranainya
tetapi juga dijiwai oleh nilai-nilai tersebut.
A. Pengaruh pengalaman, Pendidikan,
atau Usaha-usaha lain dalam pembentukan nilai tertentu cenderung menurun atau
berkurang menurut waktu.
Dengan
kata lain, pengaruh-pengaruh tersebut pada umumnya tidak akan menetap seperti
yang dapat diamati atau dinilai sejak awal. Apabila dibiarkan maka makin lama
makin hilang pengaruh itu. Ini selanjutnya berarti bahwa di dalam waktu-waktu
tertentu ada kalanya kita memperbaharui. Melanjutkan atau meningakatkan
pengaruh-pengaruh tersebut. Di antara pendekatan yang ternyata efektif membuat
perubahan itu lebih mantap dan terpola dalam waktu yang lebih panjang adalah
apabila:
(a).
Mempertinggi frekuensi datangnya pengaruh yang positif, serta.
(b).
Meningkatkan intensitas datangnya pengaruh tersebutdalam berbagai bentuk.
B.
Pengaruh pengalaman, Pendidikan, atau
usaha-usaha lain dalam pembentukan tingkah laku tertentu apabila terlaksana dengan baik
dapat memperlihatkan tanda-tanda menarik menurut waktu.
Salah
satu implikasi yang timbul disini ialah untuk meningkat kemantapan dan
keterpolaan perubahan-perubahan sikap serta perilaku perlu diadakan usaha-usaha
penguatan adan penyegaran yang bersifat berkali dan terus-menerus sesudah pengaruh yanag pertama diperkenalkan.
Itulah pula sebabnya maka penilaian mengenai efektif tidak nya
pengaruh-pengaruh tertentu terhadap perubahan-perubahan sikap dan tingkah laku
tertentu lebih tepat diadakan secara terus-menerus, dan tidak terbatas sesudah
pengaruh itu untuk pertama kalinya di perkenalkan.
2.
Anda,
Mitra, dan Lingkungan.
A.
Anak Didik Sebagai Mitra
Komunikasi
Kenyataan yang
perlu mendapat perhatian anda dalam menyusun strategi dan program peruabahan
tingkah laku adalah dua hal tersebut:
a.
Di dalam kelompok masyarakat yang telah
memperlihatkan perwujudan nilai tertentu, sangat besar kemungkinan bahwa disitu
tidak lagi terdapat orang yang tidak sepaham mengenai nilai yang berlaku umum
dalam kelompok tersebut. Ini berarti bahwa justru orng yang perlu dijangkau
untuk dibrikan pengaruh tertentu kemungkinan tidak terdapa. Didalam kelompok
tersebut kerena hidup diluar lingkungan nilai-nilai yang telah ada didalam
kelompok itu.
b.
Tingkat kedewasaan dan keterdidikan
seseorang mitra komunikasi ikut berpengaruh dalam menentukan keberhasilan
pendekatan-pendekatan pembinaan bukan jasa terhadap individu, tetapi juga
terhadap kelompok diman individu iti berada.
Dengan identifikasi dan pengelolaan yang tepat anda
dapat memanfaatkan kehadiaran mereka. Mereka dapat ikut mempercepat atau
mempertinggi pengaruh yang positif. Dengan ketelitilian pengamatan yang sama
anda pun segera mengedentifikasi individu yang dapat mempersulit proses
interaksi anda. Mereka dapat menghambat terjadinya pengaruh positif dan meningkatkan
pengaruh-p-pengaruh yang negatif. Jadi dengan perkataan lain individu-individu
yang menonjol didalam kelompok mitra yang mungkin dapat memberi pengaru positif
(Maupun pengaruh negatif).
B.
P
E N D I D I K
a.
Makim tinggi kredibilitas seorang
pendidikan dimata orang yang didiknya, makin besar pula pengaruhnya didalam
mencapai tujuan membentuk tingkah laku orang yang dibina tersebut.
b.
Kredibilitas pendidika menjadi faktor
pembentuk yang sangat penting, walaupun secara wajar kemudian dapat menjadi
kurang penting, setelah anak didik berhasil mengembangkan tingkah laku secara
mandiri.
c.
Motif-motif pendidik pendidik yang
dianggap baik oleh anak didik dapat mempengaruhi keberhailannya didalam
menghadapi anak didik tersebut.
d.
Pendidik akan lebih berhasil dalam komunikasinya
apabila ia berhasil mengenterpretasi aspirasi-aspirasi yang terkandung didalam
perasaan dan pemikiran anak didik.
e.
Dalam kontek komunikasi sosial yang
lebih luas (Terhadap sekelompok anggota masyarakat, misalnya) makin baik, citra
dan posisi pendidik menurut persepse anggota-anggota kelompok, makin mudah pula
ia berpengaruh terhadap kelompok itu.
f.
Kejesana pengertian anak didik tentang
perubahan sikap yang diharapkan dari padanya akan mempengaruhi keberhasilan
pendidik, makin jelas makin baik.
C.
LINGKUNGAN
SOSIAL Sebagai lahan berkomunikasi.
Lingkungan dimana nilai hidup tertentu
telah memasyarakat secara terpola dan terarah akan mempunyai pengaruh membentuk
yang kuat. Pengaruh itu akan jauh lebih kuat apabila di bandingkan dengan
pengaruh dari lingkungan ayang menggambarkan bahwa dalam masih terdapat
kesenjangan antara kata perbuatan, atau antara nilai yang ditawarkan dengan
nilai yang diterapkan.
Lingkungan sosial yang banyak
berpengaruh terhadap perkembangan perilaku terpola setiap anggota masyarakat
ternyata adalah lingkungan sosial yang konkrit dan langsung, yang dimaksud
dengan ini ialah lingkungan bentuk manusia nyata ( yang dikenal daan dihadapi
langsung oleh anak didik), sebagai manusia yang merupakan perwujudan nilai hidup yang tengah ditawarkan kepada
anak didik. Dalam praktek manusia-manusia nyata itu adalah lingkungan sosial
terdekat yang terutama terdiri dari mereka yang berfungsi sebagai pendidik atau
pembina.
3. Proses mempelajari nilai
melibatkan individu secara keseluruhan.
Menerima
nilai-nilai hidup dapat dipandang sebagai hasil proses belajar yang ditopang
oleh berbagai pengaalaman interaksi edukatif. Ini bagian dari keseluruhan hasil
belajar diibaratkan sebagai sebuah gunung es yang besar yang kelihatan secara
aktual, pada sebuah gunung es hanya puncaknya yang kecil, tetapi yang terpendam
secara potensial adalah tubuh gunung es yang sangat besar.
Untuk
keperluan anda secara lebih praktis
belajar pada anak didik sebainya dilihat sebagai sebuah proses, atau rangkaian
proses yang berkesinambungan. Yang melibatkan segala potensi belajar manusia
secara menyeluruh. Dengan pandangan ini anda dapat secara utuh memperhatikan
apa yang terjadi dalam diri anak didik selama ia dalam pengalaman belajar untuk
mencapai tujuan yang diharapkan (yakni untuk memilih nilai yang ditawarkan, dan
mengembangkan perilaku berdasarkan pilihan itu). Tercapainya tujuan itu secara
memuaskan berarti berhasilnya proses belajar tersebut, itulah yang patut
perhatikan sebagai ukuran keberhasilan usaha anda bersama anak didik anda.
Unsur
dari proses yang bersifat edukatif, itulah yang perlu mendapat perhatian anda
secukupnya.
Pertama,
anak didik itu sendiri harus menjadi unsur sentral dalam situasi belajar. Yang
berarti bahwa anak didik tersebut harus diberi posisi dan peranan yang dapat
menimbulkan kegiatan secara aktif.
Kedua,
adalah pemberian tujuan yang menyangkut kepentingan dan minat anak didik itu
sendiri, secara jelas dan realistik. Dengan demikian, anak didik lebih rela
melibatkan diri untuk belajar secara terarah.
Ketiga.
Adalah pemberian motivasi anak didik yang telah memiliki motivasi tinggi adalah
anak didik yang memiliki dorongan dan kesiapan mental untuk melibat dirinya
kedalam kegiatan belajar yang bertujuan. Perhubungan dinamik antara ketiga
unsur itu menciptakan satu keadaan tertentu yang disebut suasana edukatif.
Dalam suasana serupa itulah proses pelajaran nilai sebaiknya berlangsung.
Apabila
proses itu telah mencapai tujuan, maka motivasi dan kegiatan belajar menjadi
redah atau menghilangkan untuk sementara. Pada anak didik akan timbul rasa
keberhasilan peristiwa belajar telah berlangsung baik, dan hasil belajar untuk
membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi perkembangan anak didik selanjutnya.
Ia kini siap untuk mencapai tujuan berikutnya. Keesiapan belajar merupakan
suatu sikap yang perlu dimiliki oleh anak didik didalam menghadapi menghadapi
situasi belajar yang baru.
Tetapi
kesiapan mental itu bukan satu-satunya yang diperlukan oleh anak didik. Ia pun
harus siap secara fisik, gangguan fisik terutama dalam pendengaran (auditif)
dan penglihatan (visual) dapat sangat mengganggu proses belajar.
Dalam
berkomukasi dengan anak didik, kita umumnya memakai bahasa lisan, bahkan lebih
sering meluluh memakai bahasa lisan itu sebagai medium. Dari pernyataan ini
kita dapat berkata bahwa kemampuan auditif (pendengaran) anak didik yang
terutama dipergunaka. Padahal, penelitian psikologi belajar menunjukkan bahwa
umumnya manusia mempunyai kemampuan terbatas sekali untuk berhubungan dengan
dunia luar secara auditif. Kalau dengan kemampuan“visual” anak bisa mencapai prestasi belajara
anatara antara 80-85% dengan kemampuan auditif hanya antara 10-15%. Kemampuan
taktil (perabaan) penciauman dan pengecapan secara keseluruhan membantu hanaya
antara 5-7%. Komunisi yang banyak mempergunakan bahasa lisan harus
memperhatikan keadaan ini.
Kelelahan merupakan gangguan lain dalam
belajar, dan peristiwa belajar itu sendiri pun dapat menimbulkan kelelahan.
Kelelahan mental terutama dapat dilihat dari adanya kegelisahan, kelesuan atau
kebosanan, yang menyebabkan orang kehilangan mental dan dorongan untuk
menghasilkan sesuatu. Pergantian situasi dapat memberikan kesegeran dan
mengurangi kelelahan mental. Kelelahan fisik timbul dari gerak yang
berkelebihan atau justru dari gerak yang terbatas (Umpanya, duduk terlalu lama)
Tetapi
faktor yang tidak kurang penting untuk diperhatikan bahwa manusia bukan hanya
makhluk yang terdiri dari akal tetapi juga dari perasaan dan bahwa perasaan
atau emosi itu sangat berpengaruh dalam proses belajar, apalagi bila yang
dipelajari adalah suatu yang berhubungan dengan nilai dan pandangan hidup.
Pendapat
yang lebuh luas pengaruhnya saat ini menunjukkan bahwa kegagalan disekolah dan
gangguan dalam kemampuan berfikir nampak bersumber antara lain dari gangguan-gangguan
emosi. Bukan saja gangguan-gangguang yang tergolong abnurmal, menurut pandangan
psikologi perkembangan. Tetapi juga “gangguan-gangguan biasa”dalam bentuk frustasi,
kemaraahan, tekanan persaingan, dan ketegangan-ketegangan lain dalam masa
kritis : semuanya ini merupakan pengganggu terhadap prestasi belajar ditingkat
yang lebih lanjut.
4.
Proses mempelajari nilai berisi
larutan emosi
Seringkali
seorang penatar, guru agama, atau pun
guru dan orang tua pada umumnya tidak berhasil melaksanakan tugas mengajar
hanya karena ia tidak menyadari bahwa proses belajar adalah proses kejiwaan
yang sangat penuh dengan larutan emosi. Belajar adalah suatu kegiatan yang
memerlukan keterlibatan segenap potensi mental sesorang: jadi bukan saja
terbatas pada segi kognitif, tetapi juga pada segi emosi, malahan ada
kecenderungan untuk menempatkan emosi sebagai faktor utama. Tanpa antisipasi
manusia akan sesuatu yang baru tanpa penghayatan emosianal akan kepuasan rasa
kemenangan dalam mengetahui sesuatu yang baru. Manusia tak dapat digerakkan
untuk belajar.
Bagaimana emosi
memegang peranan dalam tingkah laku belajar, ditunjukkan ahli-ahli dalam
kesimpulan penelitian mereka bahwa seluruh ada gejolak emosi atau unsur
ketegangan didalam hasrat ingin tau manusia. Seseorang yang belajar selalu
memperlihatkan kadar emosi terhadap sebuah perangsang yang menimbulkan
keinginan mengetahui dengan jalan dan dengan bentuk-bentuk kegiatan yang
mempertinggi perangsang. Bila rangsangan itu telah sampai pada satu taraf yang
dapat diterima oleh anak didik sebagai suatu yang sudah dikenal, maka reaksi
itu menurun, dan perimbangan emosi akan menjadi normal lagi.
Teori motivasi
telah menunjukkan bahwa motif-motif, baik intrinsik maupun ekstrinsik dapat dan
perlu digunakan untuk menggerakkan hati seseorang, tetapi motif-motif itu dapat
dipergunakan secara positif (yang berbentuk persetujuan, pujian, penghargaan,
dll). Dapat pula secara negatif (misalnya dalam bentuk hukuman, deprivasi, dll
cara pendekatan yang sejenis).
Memang unsur
yang “negatif” senantiasa ada dalam
proses belajar sebab dengan adanya tujuan-tujuan tertentu yang harus dicapai
melalui proses belajar, maka didalam usaha mencapai tujuan untuk senentiasa
terdapat dua kemungkinan, yakni berhasil (positif) atau kurang atau tidak
berhasil (negatif) sebab itu, agar motif yang negatif daapat dipergunakan
sebagai unsur pendukung dalam proses belajar, motif itu harus dapat diterima
dan dipahami oleh mitra yang terlibat.
Dengan kata
lain, metode mengajar yang baik (sebagai halnya dengan setiap metode pendidikan
yang baik) tidak boleh terkena obsesi untuk semata-mata mengutamakan akhir
belajar setinggi mungkin metode yang baik akan memperhitungkan
keseluruhannyatermasuk kegagalan didalam proses belajar. Selain karena “nilai” kegagalan dapat
memberi petunjuk lebih lanjut mengenai bagaimana pendidik harus mengarahkan
bimbingannya, kegagalan juga dapat suatu kondisi yang sangat erat hubungan
dengan konsep diri (konsep –Aku) setiap manusia kegagalan yang berada dalam
batas kewajaran dapat menjadi hikmat.
BAB
III
PENUTUP
Demikian lah makalah ini yang
berjudul tentang Interaksi Nilai Dalam Teori dengan
Mata Kuliah Ilmu Komunikasi yang kami buat , semoga dapat bermanfaat bagi
kita semua. Amin..........
A.
Kesimpulan
anak didik itu sendiri harus menjadi
unsur sentral dalam situasi belajar. Yang berarti bahwa anak didik tersebut
harus diberi posisi dan peranan yang dapat menimbulkan kegiatan secara aktif.
pemberian tujuan yang menyangkut
kepentingan dan minat anak didik itu sendiri, secara jelas dan realistik.
Dengan demikian, anak didik lebih rela melibatkan diri untuk belajar secara
terarah.
Pemberian motivasi anak didik yang
telah memiliki motivasi tinggi adalah anak didik yang memiliki dorongan dan
kesiapan mental untuk melibat dirinya kedalam kegiatan belajar yang bertujuan.
Perhubungan dinamik antara ketiga unsur itu menciptakan satu keadaan tertentu
yang disebut suasana edukatif. Dalam suasana serupa itulah proses pelajaran
nilai sebaiknya berlangsung.
Kelelahan merupakan gangguan lain dalam
belajar, dan peristiwa belajar itu sendiri pun dapat menimbulkan kelelahan.
Kelelahan mental terutama dapat dilihat dari adanya kegelisahan, kelesuan atau
kebosanan, yang menyebabkan orang kehilangan mental dan dorongan untuk
menghasilkan sesuatu. Pergantian situasi dapat memberikan kesegeran dan
mengurangi kelelahan mental. Kelelahan fisik timbul dari gerak yang
berkelebihan atau justru dari gerak yang terbatas.
B. Saran
Dan Keritk.
Semuga dengan terselesainya makalah ini
bisa bermanfaat khususnya bagi saya pribadi dan juga kolompok kami sebagai
panyusun makalah ini serta kita semua,
umumnya. Dan semuga menjadi acuan, dan alternatif terbangunnya paradigma
kreatif dan konstruktif terhadap proses pembelajaran.
Kami
yakin bahwa makalah yang kami susun ini masih banyak kekurangan didalamnya.
Oleh kerena itu, kami mengharap kepada para pembaca makalah ini untuk
memberikan saran serta keritik, karena ini merupakan suatu hal berharga dan
sangat berarti dalam penyempurnaan makalah ini.
DAFTAR
PUSTAKA.
-------“Marshall
McLuhan Massages the Medium” dalam J.A. Battle dan Robert L, Shannon, The New In Education, Harper & Row
Publishers, New York-London,1968.
Schramm, Wilbur, dan Donald F,
Roberts, The Process and Effects of Mass
Communication, Revised edition,
Univercity of Illinois Press, Urbana Chicago-London, 197.
Suriasumantri, Jujun S., ed.,
Ilmu Dalam Perspektif , Penerbit PT Gramidia, Jakarta, 1981
Tidak ada komentar:
Posting Komentar