Selasa, 05 Januari 2016

ILMU KOMUNIKASI



BAB I
PENDAHULUAN
A.            Latar Belakang Penulisan

Dalam berinteraksi dengan siswa seorang guru sangat diperlukan teori interaksi dalam teori, untuk mengetahui pengaruh perubahan-perubahan dalam tingkah laku anak didik nya. Dalam pembahasan ini akan menijau beberapa aspek yang yang bersifat teoritik, yang mempunya kegunaan praktis dalam mengembangkan pendekatan operasional, serta persoalan masalah kemantapan dan keterpolaan perubahan sikap, karekteristik anak didik, pendidik dan lingkungan, serta implikasi unsur emosi manusia dalam proses belajar pada umumnya. pengembangan Perilaku yang terpola pada khususnya, uraian ini akan membantu anda memahami dasar psikologi dari proses interaksi nilai.

B.      Tujuan Penulisan
1.      Untuk memperluas wawasan mengenai Ilmu Komunikasi, terutama masalah Interaksi Nilai Dalam Teori
2       Penyelesaian tugas kelompok 3 Ilmu Komunikasi
3       Sebagai refrensi atau bahan pembelajaran kolompok kami ; dan
4.      Sebagai bahan presentasi kelompok 3

C.      Metode penulisan
1.      Melakukan observasi perputakaan, yaitu dengan membaca buku-buku yang berkaitan dengan pembahasan dengan tugas makalah ini.
2.      Diskusi antar mahasiswa/i,  terutama pada kelompok kami kelompok 3 yamg memberikan masukan fikiran-fikirannya, sehingga menghasilkan makalah ini,



]
BAB II
PEMBAHASAN
INTERAKSI NILAI DALAM TEORI

1.      Sedikit Teori Penghayatan Nilai-Nilai Hidup
Proses panjang yang dilalui oleh seseorang dalam mengembangkan nilai hidup tertentu adalah sebuah proses yang belum seluruhnya dipahami oleh para ahli. Apa yang terjadi di dalam diri pribadi seseorang hanya dapat didekati melalui cara-cara tidak langsung, yakni dengan mempelajari gejala dari perilaku orang tersebut, maupun dengan jalan membandingkan dengan gejala serta perilaku orang lain. Di antara proses kejiwaan  yang sulit untuk dipahami adaalah peristiwa terjemanya nilai-nilai hidup dalam diri manusia. Yang mangkin didahului oleh pengenalan nilai secara intelektual, disusul oleh penghayatan nilai tersebut, dan yang kemudian tumbuh di dalam diri manusia sedemikian rupa kuatnya sehingga seluruhnya jalan pikiran, tngkah lakunya, serta sikapnya terhadap segala sesuatu di luar dirinya, bukan saja diwaranainya tetapi juga dijiwai oleh nilai-nilai tersebut.
A.    Pengaruh pengalaman, Pendidikan, atau Usaha-usaha lain dalam pembentukan nilai tertentu cenderung menurun atau berkurang menurut waktu.
Dengan kata lain, pengaruh-pengaruh tersebut pada umumnya tidak akan menetap seperti yang dapat diamati atau dinilai sejak awal. Apabila dibiarkan maka makin lama makin hilang pengaruh itu. Ini selanjutnya berarti bahwa di dalam waktu-waktu tertentu ada kalanya kita memperbaharui. Melanjutkan atau meningakatkan pengaruh-pengaruh tersebut. Di antara pendekatan yang ternyata efektif membuat perubahan itu lebih mantap dan terpola dalam waktu yang lebih panjang adalah apabila:

(a). Mempertinggi frekuensi datangnya pengaruh yang positif, serta.
(b). Meningkatkan intensitas datangnya pengaruh tersebutdalam berbagai bentuk.
B. Pengaruh pengalaman, Pendidikan, atau usaha-usaha lain dalam pembentukan tingkah  laku tertentu apabila terlaksana dengan baik dapat memperlihatkan tanda-tanda menarik menurut waktu.
      Salah satu implikasi yang timbul disini ialah untuk meningkat kemantapan dan keterpolaan perubahan-perubahan sikap serta perilaku perlu diadakan usaha-usaha penguatan adan penyegaran yang bersifat berkali dan terus-menerus  sesudah pengaruh yanag pertama diperkenalkan. Itulah pula sebabnya maka penilaian mengenai efektif tidak nya pengaruh-pengaruh tertentu terhadap perubahan-perubahan sikap dan tingkah laku tertentu lebih tepat diadakan secara terus-menerus, dan tidak terbatas sesudah pengaruh itu untuk pertama kalinya di perkenalkan.
2.            Anda, Mitra, dan Lingkungan.
A.          Anak Didik Sebagai Mitra Komunikasi
Kenyataan yang perlu mendapat perhatian anda dalam menyusun strategi dan program peruabahan tingkah laku adalah dua hal tersebut:
a.       Di dalam kelompok masyarakat yang telah memperlihatkan perwujudan nilai tertentu, sangat besar kemungkinan bahwa disitu tidak lagi terdapat orang yang tidak sepaham mengenai nilai yang berlaku umum dalam kelompok tersebut. Ini berarti bahwa justru orng yang perlu dijangkau untuk dibrikan pengaruh tertentu kemungkinan tidak terdapa. Didalam kelompok tersebut kerena hidup diluar lingkungan nilai-nilai yang telah ada didalam kelompok itu.
b.      Tingkat kedewasaan dan keterdidikan seseorang mitra komunikasi ikut berpengaruh dalam menentukan keberhasilan pendekatan-pendekatan pembinaan bukan jasa terhadap individu, tetapi juga terhadap kelompok diman individu iti berada.
Dengan identifikasi dan pengelolaan yang tepat anda dapat memanfaatkan kehadiaran mereka. Mereka dapat ikut mempercepat atau mempertinggi pengaruh yang positif. Dengan ketelitilian pengamatan yang sama anda pun segera mengedentifikasi individu yang dapat mempersulit proses interaksi anda. Mereka dapat menghambat terjadinya pengaruh positif dan meningkatkan pengaruh-p-pengaruh yang negatif. Jadi dengan perkataan lain individu-individu yang menonjol didalam kelompok mitra yang mungkin dapat memberi pengaru positif (Maupun pengaruh negatif).

B.                 P E N D I D I K
a.       Makim tinggi kredibilitas seorang pendidikan dimata orang yang didiknya, makin besar pula pengaruhnya didalam mencapai tujuan membentuk tingkah laku orang yang dibina tersebut.
b.      Kredibilitas pendidika menjadi faktor pembentuk yang sangat penting, walaupun secara wajar kemudian dapat menjadi kurang penting, setelah anak didik berhasil mengembangkan tingkah laku secara mandiri.
c.       Motif-motif pendidik pendidik yang dianggap baik oleh anak didik dapat mempengaruhi keberhailannya didalam menghadapi anak didik tersebut.
d.      Pendidik akan lebih berhasil dalam komunikasinya apabila ia berhasil mengenterpretasi aspirasi-aspirasi yang terkandung didalam perasaan dan pemikiran anak didik.
e.       Dalam kontek komunikasi sosial yang lebih luas (Terhadap sekelompok anggota masyarakat, misalnya) makin baik, citra dan posisi pendidik menurut persepse anggota-anggota kelompok, makin mudah pula ia berpengaruh terhadap kelompok itu.
f.       Kejesana pengertian anak didik tentang perubahan sikap yang diharapkan dari padanya akan mempengaruhi keberhasilan pendidik, makin jelas makin baik.

C.                LINGKUNGAN SOSIAL Sebagai lahan berkomunikasi.
Lingkungan dimana nilai hidup tertentu telah memasyarakat secara terpola dan terarah akan mempunyai pengaruh membentuk yang kuat. Pengaruh itu akan jauh lebih kuat apabila di bandingkan dengan pengaruh dari lingkungan ayang menggambarkan bahwa dalam masih terdapat kesenjangan antara kata perbuatan, atau antara nilai yang ditawarkan dengan nilai yang diterapkan.
Lingkungan sosial yang banyak berpengaruh terhadap perkembangan perilaku terpola setiap anggota masyarakat ternyata adalah lingkungan sosial yang konkrit dan langsung, yang dimaksud dengan ini ialah lingkungan bentuk manusia nyata ( yang dikenal daan dihadapi langsung oleh anak didik), sebagai manusia yang merupakan perwujudan  nilai hidup yang tengah ditawarkan kepada anak didik. Dalam praktek manusia-manusia nyata itu adalah lingkungan sosial terdekat yang terutama terdiri dari mereka yang berfungsi sebagai pendidik atau pembina.

3.      Proses mempelajari nilai melibatkan individu secara keseluruhan.
Menerima nilai-nilai hidup dapat dipandang sebagai hasil proses belajar yang ditopang oleh berbagai pengaalaman interaksi edukatif. Ini bagian dari keseluruhan hasil belajar diibaratkan sebagai sebuah gunung es yang besar yang kelihatan secara aktual, pada sebuah gunung es hanya puncaknya yang kecil, tetapi yang terpendam secara potensial adalah tubuh gunung es yang sangat besar.
Untuk keperluan  anda secara lebih praktis belajar pada anak didik sebainya dilihat sebagai sebuah proses, atau rangkaian proses yang berkesinambungan. Yang melibatkan segala potensi belajar manusia secara menyeluruh. Dengan pandangan ini anda dapat secara utuh memperhatikan apa yang terjadi dalam diri anak didik selama ia dalam pengalaman belajar untuk mencapai tujuan yang diharapkan (yakni untuk memilih nilai yang ditawarkan, dan mengembangkan perilaku berdasarkan pilihan itu). Tercapainya tujuan itu secara memuaskan berarti berhasilnya proses belajar tersebut, itulah yang patut perhatikan sebagai ukuran keberhasilan usaha anda bersama anak didik anda.
Unsur dari proses yang bersifat edukatif, itulah yang perlu mendapat perhatian anda secukupnya.
Pertama, anak didik itu sendiri harus menjadi unsur sentral dalam situasi belajar. Yang berarti bahwa anak didik tersebut harus diberi posisi dan peranan yang dapat menimbulkan kegiatan secara aktif.
Kedua, adalah pemberian tujuan yang menyangkut kepentingan dan minat anak didik itu sendiri, secara jelas dan realistik. Dengan demikian, anak didik lebih rela melibatkan diri untuk belajar secara terarah.
Ketiga. Adalah pemberian motivasi anak didik yang telah memiliki motivasi tinggi adalah anak didik yang memiliki dorongan dan kesiapan mental untuk melibat dirinya kedalam kegiatan belajar yang bertujuan. Perhubungan dinamik antara ketiga unsur itu menciptakan satu keadaan tertentu yang disebut suasana edukatif. Dalam suasana serupa itulah proses pelajaran nilai sebaiknya berlangsung.
Apabila proses itu telah mencapai tujuan, maka motivasi dan kegiatan belajar menjadi redah atau menghilangkan untuk sementara. Pada anak didik akan timbul rasa keberhasilan peristiwa belajar telah berlangsung baik, dan hasil belajar untuk membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi perkembangan anak didik selanjutnya. Ia kini siap untuk mencapai tujuan berikutnya. Keesiapan belajar merupakan suatu sikap yang perlu dimiliki oleh anak didik didalam menghadapi menghadapi situasi belajar yang baru.
Tetapi kesiapan mental itu bukan satu-satunya yang diperlukan oleh anak didik. Ia pun harus siap secara fisik, gangguan fisik terutama dalam pendengaran (auditif) dan penglihatan (visual) dapat sangat mengganggu proses belajar.
Dalam berkomukasi dengan anak didik, kita umumnya memakai bahasa lisan, bahkan lebih sering meluluh memakai bahasa lisan itu sebagai medium. Dari pernyataan ini kita dapat berkata bahwa kemampuan auditif (pendengaran) anak didik yang terutama dipergunaka. Padahal, penelitian psikologi belajar menunjukkan bahwa umumnya manusia mempunyai kemampuan terbatas sekali untuk berhubungan dengan dunia luar secara auditif. Kalau dengan kemampuanvisual anak bisa mencapai prestasi belajara anatara antara 80-85% dengan kemampuan auditif hanya antara 10-15%. Kemampuan taktil (perabaan) penciauman dan pengecapan secara keseluruhan membantu hanaya antara 5-7%. Komunisi yang banyak mempergunakan bahasa lisan harus memperhatikan keadaan ini.
 Kelelahan merupakan gangguan lain dalam belajar, dan peristiwa belajar itu sendiri pun dapat menimbulkan kelelahan. Kelelahan mental terutama dapat dilihat dari adanya kegelisahan, kelesuan atau kebosanan, yang menyebabkan orang kehilangan mental dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu. Pergantian situasi dapat memberikan kesegeran dan mengurangi kelelahan mental. Kelelahan fisik timbul dari gerak yang berkelebihan atau justru dari gerak yang terbatas (Umpanya, duduk terlalu lama)
Tetapi faktor yang tidak kurang penting untuk diperhatikan bahwa manusia bukan hanya makhluk yang terdiri dari akal tetapi juga dari perasaan dan bahwa perasaan atau emosi itu sangat berpengaruh dalam proses belajar, apalagi bila yang dipelajari adalah suatu yang berhubungan dengan nilai dan pandangan hidup.
Pendapat yang lebuh luas pengaruhnya saat ini menunjukkan bahwa kegagalan disekolah dan gangguan dalam kemampuan berfikir nampak bersumber antara lain dari gangguan-gangguan emosi. Bukan saja gangguan-gangguang yang tergolong abnurmal, menurut pandangan psikologi perkembangan. Tetapi juga gangguan-gangguan biasadalam bentuk frustasi, kemaraahan, tekanan persaingan, dan ketegangan-ketegangan lain dalam masa kritis : semuanya ini merupakan pengganggu terhadap prestasi belajar ditingkat yang lebih lanjut.

4.      Proses mempelajari nilai berisi larutan emosi
Seringkali seorang penatar, guru agama, atau pun guru dan orang tua pada umumnya tidak berhasil melaksanakan tugas mengajar hanya karena ia tidak menyadari bahwa proses belajar adalah proses kejiwaan yang sangat penuh dengan larutan emosi. Belajar adalah suatu kegiatan yang memerlukan keterlibatan segenap potensi mental sesorang: jadi bukan saja terbatas pada segi kognitif, tetapi juga pada segi emosi, malahan ada kecenderungan untuk menempatkan emosi sebagai faktor utama. Tanpa antisipasi manusia akan sesuatu yang baru tanpa penghayatan emosianal akan kepuasan rasa kemenangan dalam mengetahui sesuatu yang baru. Manusia tak dapat digerakkan untuk belajar.
Bagaimana emosi memegang peranan dalam tingkah laku belajar, ditunjukkan ahli-ahli dalam kesimpulan penelitian mereka bahwa seluruh ada gejolak emosi atau unsur ketegangan didalam hasrat ingin tau manusia. Seseorang yang belajar selalu memperlihatkan kadar emosi terhadap sebuah perangsang yang menimbulkan keinginan mengetahui dengan jalan dan dengan bentuk-bentuk kegiatan yang mempertinggi perangsang. Bila rangsangan itu telah sampai pada satu taraf yang dapat diterima oleh anak didik sebagai suatu yang sudah dikenal, maka reaksi itu menurun, dan perimbangan emosi akan menjadi normal lagi.
Teori motivasi telah menunjukkan bahwa motif-motif, baik intrinsik maupun ekstrinsik dapat dan perlu digunakan untuk menggerakkan hati seseorang, tetapi motif-motif itu dapat dipergunakan secara positif (yang berbentuk persetujuan, pujian, penghargaan, dll). Dapat pula secara negatif (misalnya dalam bentuk hukuman, deprivasi, dll cara pendekatan yang sejenis).
Memang unsur yang negatif senantiasa ada dalam proses belajar sebab dengan adanya tujuan-tujuan tertentu yang harus dicapai melalui proses belajar, maka didalam usaha mencapai tujuan untuk senentiasa terdapat dua kemungkinan, yakni berhasil (positif) atau kurang atau tidak berhasil (negatif) sebab itu, agar motif yang negatif daapat dipergunakan sebagai unsur pendukung dalam proses belajar, motif itu harus dapat diterima dan dipahami oleh mitra yang terlibat.
Dengan kata lain, metode mengajar yang baik (sebagai halnya dengan setiap metode pendidikan yang baik) tidak boleh terkena obsesi untuk semata-mata mengutamakan akhir belajar setinggi mungkin metode yang baik akan memperhitungkan keseluruhannyatermasuk kegagalan didalam proses belajar. Selain karena nilai kegagalan dapat memberi petunjuk lebih lanjut mengenai bagaimana pendidik harus mengarahkan bimbingannya, kegagalan juga dapat suatu kondisi yang sangat erat hubungan dengan konsep diri (konsep –Aku) setiap manusia kegagalan yang berada dalam batas kewajaran dapat menjadi hikmat.

BAB III
PENUTUP
Demikian lah  makalah ini yang berjudul tentang  Interaksi Nilai Dalam Teori  dengan Mata Kuliah Ilmu Komunikasi  yang kami buat , semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin..........
A.                Kesimpulan

anak didik itu sendiri harus menjadi unsur sentral dalam situasi belajar. Yang berarti bahwa anak didik tersebut harus diberi posisi dan peranan yang dapat menimbulkan kegiatan secara aktif.
pemberian tujuan yang menyangkut kepentingan dan minat anak didik itu sendiri, secara jelas dan realistik. Dengan demikian, anak didik lebih rela melibatkan diri untuk belajar secara terarah.
Pemberian motivasi anak didik yang telah memiliki motivasi tinggi adalah anak didik yang memiliki dorongan dan kesiapan mental untuk melibat dirinya kedalam kegiatan belajar yang bertujuan. Perhubungan dinamik antara ketiga unsur itu menciptakan satu keadaan tertentu yang disebut suasana edukatif. Dalam suasana serupa itulah proses pelajaran nilai sebaiknya berlangsung.
Kelelahan merupakan gangguan lain dalam belajar, dan peristiwa belajar itu sendiri pun dapat menimbulkan kelelahan. Kelelahan mental terutama dapat dilihat dari adanya kegelisahan, kelesuan atau kebosanan, yang menyebabkan orang kehilangan mental dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu. Pergantian situasi dapat memberikan kesegeran dan mengurangi kelelahan mental. Kelelahan fisik timbul dari gerak yang berkelebihan atau justru dari gerak yang terbatas.


B.        Saran Dan Keritk.
    Semuga dengan terselesainya makalah ini bisa bermanfaat khususnya bagi saya pribadi dan juga kolompok kami sebagai panyusun makalah ini  serta kita semua, umumnya. Dan semuga menjadi acuan, dan alternatif terbangunnya paradigma kreatif dan konstruktif terhadap proses pembelajaran.
Kami yakin bahwa makalah yang kami susun ini masih banyak kekurangan didalamnya. Oleh kerena itu, kami mengharap kepada para pembaca makalah ini untuk memberikan saran serta keritik, karena ini merupakan suatu hal berharga dan sangat berarti dalam penyempurnaan makalah ini.


DAFTAR PUSTAKA.

-------Marshall McLuhan Massages the Medium dalam  J.A. Battle dan Robert L, Shannon, The New In Education, Harper & Row Publishers, New York-London,1968.

Schramm, Wilbur, dan Donald F, Roberts, The Process and Effects of Mass Communication, Revised  edition, Univercity of Illinois Press, Urbana Chicago-London, 197.

Suriasumantri, Jujun S., ed., Ilmu Dalam Perspektif , Penerbit PT Gramidia, Jakarta, 1981

Tidak ada komentar:

Posting Komentar